Krisis Global 2012

Krisis global yang akan terjadi pada tahun 2012 memang berdampak buruk pada Negara yang sedang berkembang, termasuk Negara Indonesia. Bagi Indonesia, dilihat dari aspek produksi dan konsumsi dalam negeri, krisis politik di Timur Tengah berpotensi membuat kondisi energi kita makin kritis. Ini perlu diantisipasi secara serius,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Indonesia (Aspermigas) Effendi Siradjuddin, di Jakarta

konsumsi minyak dunia pada 2010 sudah mencapai 2,7 juta barel per hari (ph). Angka tersebut cenderung bertambah 1,5 hingga 2 juta bph setiap tahun. Sedangkan produksi ekstra minyak dunia (spare capacity) diperkirakan nol pada 3 hingga 4 tahun mendatang. “Kondisi ini dipastikan berdampak pada kenaikan harga.

Dalam 5-20 tahun ke depan, Effendi memperkirakan, konsumsi minyak dunia akan mencapai 120-130 juta bph, sedangkan tingkat produksi maksimal hanya 105-110 juta bph. “Artinya, kebutuhan energi dunia akan defisit 15-20 juta bph. Kondisi ini sangat mengerikan,” ujarnya.

Bisa jadi, meskipun sebuah negara punya banyak uang, namun tidak bisa membeli minyak. Ini karena memang tidak ada barang yang tersedia di pasar untuk dibeli . Karenanya, jika melihat data tersebut, dia mengkhawatirkan akan adanya krisis global di 2012. Mengingat arus modal asing tersebut sudah mulai masuk sejak 2003

Sementara Direktur IMF Asia Pasifik Anoop Singh menilai prediksi Jeffrey itu tidak signfikan ke Indonesia. Pasalnya, di masing-masing negara itu berbeda cara pandangnya. “Krisis di masing-masing negara itu berbeda cara menghitungnya , jadi belum tentu setiap negara sama menghitungnya,” ujarnya.

Adapun, empat negara di Asia, diasumsikannya juga berpotensi mengalami overheating, yakni India, Indonesia, Singapura, dan Tiongkok. Hal ini terlihat dari sisi GDP dan juga inflasi. Sementara itu menurut perhitungan BI, overheating didapat dari inflasi yang berfluktuatif dan current account bukannya GDP.

Sumber :

wikipedia

viva news